Jumat, 29 April 2011

Jalan Kebahagiaan

Setiap umat manusia pasti mendamba-dambakan kebahagiaan, tetapi apakah kebahagiaan itu. Definisinya bisa bermacam-macam, tetapi disini kebahagian aku artikan sebagai ketentraman hati dan kelapangan pikiran. Ketentraman hati dan kelapangan pikiran adalah hasil dari seluruh sumber pembelajaran kita perihal keimanan. Suatu ketika Rosul pernah bertanya kepada para sahabatnya. “Man anhu?” “siapa kalian?” sebuah pertanyaan yang sedikit aneh mengingat yang ditanya adalah sahabat-sahabat yang sudah lama bersama dirinya seperti, Abu bakar, Umar, Usman, Ali, Zaid, Hamzah dan sahabat lainnya yang pertama-tama masik islam. Mendapat pertanyaan dari Rosul, sahabatpun dapat menangkap dengan cerdas pertanyaan tersebut. Lalu mereka menjawab “Kami orang-orang beriman”. Jawaban tersebut benar dan Rosul pun tersenyum, namun kurang puas dengan jawaban para sahabatnya, Rosul pun menambahkan pertanyaan “Apa tanda-tanda orang beriman?”. Lalu sahabat pun menjawab “Bersabar ketika diberi cobaan, Bersyukur atas ni’mat yang diberikan dan Ridho atas segala ketentuan Allah SWT”.
Dari dialog di atas dapat ditarik suatu pertanyaan tentang tanda-tanda orang beriman, mengapa bukan jawaban tentang sholat, puasa, zakat, haji dan ibadah-ibadah lainnya yang mencirikan dia sebagai orang islam. Karena sholat, puasa, haji adalah suatu proses untuk mencapai sebuah keimanan. Bukankah sholat itu mencegah perbuatan munkar dan hasil dari sholat dan ibadah lainnya adalah untuk menjadikan diri sendiri merasa tenang. Jika ketentraman hati bisa menjadi kehidupan kaum mukmin maka akan mereka akan terbang menuju surga. Ketika malaikat penjaga surga bertanya bagaimana mereka bisa sampai di sini, mereka menjawab kami tidak tahu, tiba-tiba kami terbang dan sampai di sini. Malaikat terheran-heran dan kembali bertanya, apakah kalian melihat neraka? Kami tidak tahu perihal neraka, jawab mereka. Apa kalian melihat jembatan shirot? Kami tidak pula mengetahui hal tersebut, jawab mereka. Malaikatpun kembali bertanya, apa kalian dihisab? Tidak, kami tidak dihisab, kami tiba-tiba berada disini. Kalian umat siapa? Tanya malaikat meneruskan. Kami umat Muhammad SAW, jawab mereka. Apa amalan kalian selama hidup di dunia? Tanya malaikat semakin heran. Kami melakukan amalan sebagaimana yang diperintahkan Tuhan. Kami takut dan malu terhadap Allah SWT ketika sendirian, tidak pernah minta diruqyah, tidak bekerja sebagai peminta-minta. Kami melakukan ibadah dan menghayati hasil ibadah kami, yaitu mententramkan hati dan melapangkan pikiran.
Apa sebenarnya hakikat sholat, sholat menjadikan diri rendah hati, takut dan malu kepada Allah ketika sendirian. Apa sebenarnya hakikat haji yang mabrur, mabrur adalah orang yang melebihkan kepekaan terhadap orang yang tidak mampu, menjaga dan menjalin silaturahmi, bermanfaat bagi lingkungan dan mengajak kepada kesabaran dan kebaikan.

"Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri.

Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, 'Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, 'Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!' Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, 'Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab’". HR Bukhori.

Wallohua’lambishowab.
Begitulah ceritera yang kuceriterakan kepada Aldehyde ketika ia sedang ingin berangkat menuju alam mimpi.
baca lanjut..

Rabu, 27 April 2011

Perangai Hasrat

Perangaimu begitu berbeda, buaian demi buaian kau berikan kepadaku. Segala suatu dan hal kecilpun kau pertanyaan padaku. Senyuman dan sentuhan. Hingga aku jawab, sejenak sebelum ku terbang kau ada disisiku hingga hati ini melayang. Ketika ku benar-benar terbang kau tidak ikut terbang bersamaku, kau hanya tertawa.
baca lanjut..