Kamis, 26 Mei 2011

Sambutlah.. dan besabarlah..

Pernah aku duduk ditepian sebuah danau yang semilir anginnya membuat tunas-tunas pesona jiwa berkembang menjadi benih-benih cinta bersama dengan seorang gadis yang mencintaiku.Aku resapi goyangan ombak-ombak kecil yang tercipta oleh dorongan angin yang menyejukkan. Ombak-ombak kecil ibarat jari-jemari tangan yang ingin menggapai yang dikasihi. Setiap detik setiap menit yang berlalu jari-jari kecil itu terus merangkai asa untuk sekedar merangkul dan membangunkan tepian danau yang menjadi kekasihnya. Sementara itu tepian danau yang ditumbuhi dan ditemani oleh bebungaan dan pepohonan cemara dan pinus tetap diam. Diam bagaikan tak peduli akan kejadian dan keadaan
disekitarnya atau bahkan mungkin juga tak memperdulikan tarian-tarian kecil dari jari-jari kecil sang ombak yang mengapai-gapai untuk memanggilnya dalam suasana cinta dan kasih. Awan-awan dilangit pun teduh seolah olah merestui sang ombak-ombak kecil yang menari-nari akibat hembusan angin sejuk sore ini. Bagaimana mungkin sang kekasih diam saja tanpa berbuat sesuatu atau mungkin menghiraukannya sedikit saja. Tepian danauku yang diam mengapa tak kau sahut panggilan dan belaian ombak yang melahirkan buih-buih hasrat cinta..dan dalam kebersahajaannya tepian danau berbisik pelan kepadaku seolah suaranya yang dalam tak ingin diketahui oleh makhluk-makhluk penghuni alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar